loading...

SKRIPSI - KARYA SASTRA TENTANG “Муму” Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenev

 

BAB I
PENDAHULUAN

SKRIPSI - KARYA SASTRA TENTANG “Муму”  Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenev

1.1  Latar Belakang Masalah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1230), sastra merupakan bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari; karya tulis yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya; kitab suci (Hindu), (kitab) ilmu pengetahuan; pustaka; kitab primbon (berisi ramalan, hitungan dan sebagainya); tulisan; atau huruf. Meskipun terdapat berbagai arti, terdapat juga keuniversalan arti yang umum dipahami dan di sepakati oleh banyak ahli yaitu bahwa sastra menggunakan bahasa yang bukan bahasa sehari hari, bahasa indah bahasa yang terasa asing. Dari pengertian ini, terdapat kesepakatan bahwa sastra mengandung makna ideal dan istimewa.
Kesusastraan bukanlah hanya karya-karya berupa hasil rekaan saja. Karya-karya yang berdasarkan pada kenyataan. Bahasa sastra biasanya bahasa khusus yang merupakan hasil susunan sastrawannya. Fungsi bahasa dalam sastra bukan hanya memberitahukan melainkan juga memberi gambaran sebagai ungkapan arti tentang apa yang dilihat dan dirasakannya sehingga arti yang dikandung dalam bahasa itu lebih kaya. Sastra adalah sebagai pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah dialami orang tentang kehidupan, apa yang telah dipermenungkan, dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang menarik minat secara langsung lagi kuat pada hakekatnya adalah suatu pengungkapan kehidupan lewat bentuk bahasa.
Dari kutipan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sastra itu adalah sebuah seni yang diperkaya atau berisikan nilai-nilai kehidupan serta pengalaman dan kejadian yang dirasakan oleh pengarangnya.
Karya sastra merupakan hasil dari daya cipta, karya manusia yang mengandung nilai seni  yang tinggi sebuah seni bahasa memerlukan kemampuan bahasa untuk menikmati karya sastra secara sungguh-sungguh (Sumardjo, 1988: 30). Karena tanpa memiliki kemampuan bahasa dan ilmu pengetahuan yang cukup, seseorang tidak akan bisa menikmati sebuah karya sastra dengan pemahaman yang tepat.
            Karya sastra memiliki jenis yang berbeda seperti  narasi (prosa, novel, dan cerita pendek), puisi (komposisi dalam syair yang mengekspresikan perasaan penulis), drama, epik (syair-syair yang menceritakan perbuatan pahlawan atau dewa-dewa) atau mengajar (yang berusaha untuk mengarahkan pembaca atau pendengar). Karya sastra juga dapat berupa tulisan (buku atau media cetak lain bermain cerita tanpa perubahan) atau lisan (diwariskan dari generasi ke generasi dan sering berubah dari waktu ke waktu, seperti legenda atau cerita rakyat). Dalam sastra ada jenis–jenis (genre) dan ragam–ragam; jenis sastra prosa dan puisi, prosa mempunyai ragam salah satunya cerpen. Pandangan (Pradopo, 1985: 1) dalam buku struktur cerita pendek jawa, cerpen adalah  salah satu genre prosa yang juga digemari oleh masyarakat karena jalan ceritanya yang jauh lebih pendek daripada genre-genre lainnya seperti roman atau novel. Fanini, dkk,  (1988: 76) mengistilahkan cerita pendek itu “terpusat dan lengkap pada dirinya sendiri” cerita pendek memang memiliki struktur yang sama dengan roman atau novel, yaitu memiliki tema, fakta, dan sarana cerita akan tetapi, karena cerita pendek hanya membahas sebagian dari kehidupan seorang tokoh, maka masalah yang dibahas pun pada umumnya hanya terpusat pada tokoh utama saja.
            Oleh karena itu, pengertian karya sastra bukanlah ilmu namun seni yang di dalamnya  mengandung unsur kemanusiaan tetapi, hanya bisa dimengerti oleh seseorang yang mempunyai kemampuan bahasa, serta ilmu pengetahuan dalam cakupan luas sehingga membuat pola pikir orang tersebut tidak dibatasi oleh paradigma yang  ada. Sebagai salah satu karya yang berbobot, sesuai dengan definisi dan maksud di atas, maka dalam penelitian ini akan dikaji ikonisitas dalam cerpen Муму  Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenev.
Ivan Sergevich Turgenev  adalah seorang agnostik (orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan tidak dapat diketahui) yang berbau barat,  dia orang yang pendiam, lahir pada tanggal 28 Oktober tahun 1818 di Oryol, Turgenyev adalah salah satu raksasa dalam khasanah kesusastraan Rusia pada pertengahan abad ke-19. Dia dikenal sebagai seorang novelis besar Rusia, dengan cara penulisan realistisnya mengenai kaum petani Rusia dan dia juga mempelajari cara kecerdasan orang Rusia yang sedang mencoba membawa negaranya ke suatu perubahan ke arah yang lebih modern. Ayahnya bernama Sergei Nikolaevich Turgenev, seorang kolonel resimen kavaleri dan ibunya Varvara Petrovna Lutovinova, seorang putri tuan tanah yang memiliki perkebunan yang luas. Keadaan di dalam keluarganya tidak harmonis, terlebih lagi usia ibunya yang lebih tua dari ayahnya, sehingga kekuasaan di dalam rumah berada di tangan ibunya, untuk mengurus perkebunannya yang luas ibunya memiliki banyak budak, ibunya memperlakukan budak-budaknya secara tidak manusiawi dan ini mengakibatkan trauma tersendiri bagi Turgenyev.
Kesan yang tidak baik yang diperlihatkan oleh ibunya itu kemudian ditulis Turgenev ke dalam karya-karyanya, salah satu karyanya adalah cerpen Муму  Mumu yang ditulis pada tahun 1854. Cerita ini mengisahkan seorang tukang kebun yang gagah serta pemberani dia bernama Garasim, dia tuna rungu dan tuna wicara sejak lahir. Dia diasingkan oleh keluarganya karena fisiknya bertubuh besar yang membuat dia berbeda dengan orang lain. Di sisi lain Garasim, memiliki kekuatan melebihi orang lain, misalnya dia bisa mengerjakan pekerjaan sendirian yang  umumnya harus dikerjakan oleh empat orang, dia mengerjakan pekerjaannya dengan cepat dan benar sehingga majikan menyukainya. Garasim menemukan seekor anjing kecil yang tenggelam di sungai, dia menyelamatkan anjing tersebut dan menjadi teman baiknya, anjing tersebut dia beri nama Mumu.
Semiotik (semiotics) berasal dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti tanda atau petanda. Tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif, mampu menggantikan suatu yang lain (stand for something else) yang dapat dipikirkan atau dibayangkan (Ratna, 2013: 97). Semiotik adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda atau teori tentang pemberian tanda serta ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda, tanda merupakan sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain. Semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda. Semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggung jawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun (Teeuw, 1984: 141). Semiotik merupakan model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat.
Menurut  Pierce dalam Nurgiyantoro (2009: 43) mengatakan bahwa, sesuatu itu dapat disebut sebagai tanda jika ia mewakili sesuatu yang  lain, sebuah tanda yang disebutnya sebagai representamen  haruslah mengacu atau mewakili sesuatu yang disebutnya sebagai objek acuan, ia juga menyebutkannya sebagai designatum, denotatum, dan dewasa ini orang menyebutnya istilah referent, manusia dapat berfikir dengan sarana tanda, jika sebuah tanda mewakili acuannya, hal itu adalah fungsi utama tanda, misalnya anggukan kepala mewakili persetujuan, gelengan kepala mewakili ketidaksetujuan. Agar berfungsi tanda harus di tangkap, dipahami, misalnya dengan bantuan suatu kode (kode adalah suatu sistem peraturan, dan bersifat transindividual). Proses pewakilan tanda terhadap acuan terjadi pada saat tanda itu ditafsirkan dalam hubungannya dengan yang diwakili, proses pewakilan itu disebut semiosis, semiosis adalah suatu proses dimana suatu tanda berfungsi sebagai tanda, yaitu mewakili sesuatu yang ditandainya. Pierce membedakan hubungan antara tanda dengan acuannya ke dalam tiga jenis hubungan, yaitu; ikon, jika ia berupa hubungan kemiripan, indeks, jika ia berupa hubungan kedekatan eksistensi atau sebab akibat dan yang terakhir simbol, jika ia berupa hubungan yang sudah terbentuk secara konvensi (kesepakatan).
Dalam penelitian ini penulis akan mengambil judul “Ikonisitas Cerpen МумуMumu karya Ivan Sergeyevich Turgenyev” melalui terapan teori Semiotik Charles Sanders Pierce yang  cocok dengan identifikasi masalah yang akan dibahas selanjutnya.

1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan penjelasan sebelumnya,  masalah yang didasari oleh hal tersebut diatas selanjutnya akan menjadi pembahasan. Maka penulis menguraikan dalam bentuk  pertanyaan sebagai berikut:
1.       Bagaimanakah penggambaran Rusia pada setting tempat dalam cerpen ”Муму“ Mumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev?
2.       Bagaimanakah setting waktu dan sejarah dalam cerpen ”Муму“ Mumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev?
3.       Bagaimanakah representasi tokoh Garasim dalam cerpen “Муму“ Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenyev?

SKRIPSI - KARYA SASTRA TENTANG “Муму”  Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenev

1.3  Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dan tujuan penelitian yang diharapkan setelah menganalisis karya tersebut adalah:
1.      Mendeskripsikan penggambaran Rusia pada setting tempat  dalam cerpen ”Муму“ Mumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev.
2.      Mendeskripsikan  setting waktu dan sejarah dalam cerpen “Муму“ Mumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev.
3.      Mendeskripsikan representasi tokoh Garasim dalam cerpen “Муму“ Mumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev.
1.4  Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat khususnya bagi penulis mengenai karya Ivan Sergeyevich Turgenyev. Sedangkan bagi pihak lain, terutama bagi pembaca skripsi ini, diharapkan tulisan ini dapat memberi informasi dan pengetahuan tentang kesusastraan Rusia khususnya mengenai cerpen karya Ivan Sergeyevich Turgenev yang berjudul “МумуMumu.
1.5  Metode Penelitian dan Kajian
Suatu metode sangat diperlukan di dalam sebuah penelitian ilmiah karena metode adalah suatu strategi dengan cara memahami sesuatu atau langkah-langkah sistematis dalam memecahkan sebuah masalah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis dan metode analisis isi. Teori yang digunakan adalah teori semiotik Pierce untuk menganalisis ikonisitas dalam cerpen “МумуMumu karya Ivan Sergeyevich Turgenyev. Adapun isi dalam metode analisis isi terdiri dari dua macam, yaitu isi laten dan isi komunikasi, isi laten adalah isi yang terkandung dalam dokumen dan naskah, sedangkan isi komunikasi adalah pesan yang terkandung sebagai akibat komunikasi yang terjadi oleh karena itu, metode analisis isi dilakukan dalam dokumen-dokumen yang padat isi (Ratna, 2013: 48-49).
Berdasarkan  hakekat metode deskriptif  analisis, penulis menguraikan langkah-langkah dan metode tersebut dengan cara sistematis, langkah awal yang dilakukan penulis yaitu, menerjemahkan cerpen “Муму“ Mumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev dari bahasa Rusia ke bahasa Indonesia, kemudian melakukan studi kepustakaan guna mendapatkan teori-teori dan informasi yang akan digunakan sebagai pedoman dalam membahas penelitian ini. Selanjutnya, penulis menganalisis unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik yang tersirat dalam cerpen Муму Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenyev. Setelah itu mengolahnya menjadi sebuah data yang siap dipakai untuk penulis gunakan dalam bentuk penelitian.
1.6  Kerangka Teori
Dalam penelitian diperlukan suatu kerangka teori yang matang agar maksud dan tujuannya terarah pada target yang diharapkan. Berfungsi untuk mengarahkan sebagai penunjuk jalan agar suatu penelitian tidak kehilangan arah. Untuk itu diperlukan teori untuk mendukung analisis cerpen, dalam menganalisis cerpen “Муму Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenyev penulis akan menggunakan teori semiotika Pierce dan menggunakan teori-teori lainnya yang akan membantu penulis.
 Istilah semiotika atau semiotik, yang dimunculkan pada akhir abad ke-19 oleh filsuf aliran pragmatik Amerika, Charles Sanders Peirce, merujuk kepada “doktrin formal tentang tanda-tanda”, yang menjadi dasar semiotika adalah konsep tentang tanda, tidak hanya bahasa dan sistem komunikasi, melainkan dunia itu sendiri, terkait dengan pikiran manusia seluruhnya terdiri atas tanda-tanda karena jika seperti itu, manusia tidak akan bisa menjalin hubungannya dengan realitas (Budiman, 2011: 17). Bahasa itu sendiri merupakan sistem tanda yang paling fundamental bagi manusia, sedangkan tanda-tanda nonverbal seperti gerak-gerik, bentuk-bentuk pakaian, serta beraneka praktik sosial konvensional lainnya, dapat dipandang sebagai sejenis bahasa yang tersusun dari tanda-tanda bermakna yang di komunikasikan berdasarkan relasi-relasi (Piliang, 2012: 309). Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi, manusia dengan perantara tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya (Lechte, 2001: 64). Semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima kode (sistem tanda), pesan, saluran komunikasi, dan acuan, serta memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu. Semiotika adalah suatu disiplin yang menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana signs ‘tanda-tanda’ dan berdasarkan pada sign system (code) ‘ sistem tanda’.
Dalam penelitian ini, banyak digunakan kajian pustaka sebagai acuan pengkajian di atas.  Nurgiyantoro (2009: 41), Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna, S.U (2013: 30), A. Teeuw (1984: 35, 141).

1.7  Contoh Analisis Cerpen
Dalam cerpen Муму “Mumu” karya Ivan Sergeyevich Turgenyev tokoh Garasim menggambarkan  kehidupan di Rusia tentang perbudakan, dimana tokoh utama (Garasim) berbadan besar dan menyeramkan sehingga dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. Namun,  ada seekor anjing yang menemani dan menerimanya. Suatu saat majikan Garasim  menyuruhnya menyingkirkan anjing tersebut, karena anjing itu selalu mengganggu istirahatnya. Namun Garasim bimbang antara membunuh atau mempertahankan anjingnya, dia bingung karena perintah dari majikannya. Dengan berat hati Garasim membunuh anjing kesayangannya dengan menenggelamkan Mumu ke sungai..
1.8  Sumber Data   
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teks cerpen МумуMumu  karya Ivan Sergeyevich Turgenyev cerpen tersebut diunduh dari website http://www.turgenev.org.ru/e-book/mu-mu.htm  yang  ditulis  pada  tahun  1852.
SKRIPSI - KARYA SASTRA TENTANG “Муму” Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenev 4.5 5 ABD ABAS BAB I PENDAHULUAN SKRIPSI - KARYA SASTRA TENTANG “Муму”  Mumu karya Ivan Sergeyevich Turgenev ...


No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.